Rabu, 16 Juli 2014

Puasa dan Kesadaran akan Dia


Kita sudah paham bahwa tujuan puasa adalah mendapatkan derajad taqwa. Taqwa yang bagaimana? Banyak definisi taqwa yang sudah kita pahami bersama…. Tapi disini saya ingin memaknai taqwa dengan makna keselarasan pikiran dan sikap batiniah dengan perbuatan lahiriah. Jadi tidak ada pertentangan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dikerjakannya, atau antara diri kita sendiri dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Kepribadian seseorang membutuhkan keharmonisan, keseimbangan dan keutuhan, tanpa kecenderungan dan gejolak yang mendorong menuju pada arah yang saling bertentangan (Harmonitas pribadi).

Jadi dengan berpuasa akan dihasilkan harmonitas pribadi sehingga pribadi tersebut mempunyai kemampuan mengendalikan diri, kemampuan berbagi rizki, kemampuan mengelola lingkungan, dan selalu optimis karena berorientasi / berpusat kepada DIA.

Untuk upaya menuju harmonitas pribadi maka perlu secara terus menerus mengupayakan kesadaran akan keberadaan DIA.

Di Hari ke-17 puasa ini…, mari kita meresapi beberapa ayat dalam Al-Qur’an untuk menambah kesadaran akan keberadaan DIA…

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu (Qs.2:29).

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs.3:6)

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. (Qs.3:7)

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). (Qs.6:2)

Dan dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (Qs.6:3)

Dan dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. dan dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Qs.6:18)

Dan dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, Kemudian dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang Telah ditentukan, Kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (Qs.6:60)

Dan dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. dan benarlah perkataan-Nya di waktu dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. dan dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Qs.6:73)

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan dialah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui.
Sesungguhnya Telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; Maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), Maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (Tidak melihat kebenaran itu), Maka kemudharatannya kembali kepadanya. dan Aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu). (Qs.6:103-104)

Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs.6:165)

Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu Telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah kami membangkitkan orang-orang yang Telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Qs.7:157)

Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (Qs.9:33)

Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Qs.13:3)

Dia-lah, yang Telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.
Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Dan dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),
Dan dia (menundukkan pula) apa yang dia ciptakan untuk kamu di bumi Ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
Dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,
Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). dan dengan bintang-bintang Itulah mereka mendapat petunjuk.
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs.16:10-18)

dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
Dan dialah Allah yang Telah menghidupkan kamu, Kemudian mematikan kamu, Kemudian menghidupkan kamu (lagi), Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat. (Qs.22:65-66)

Dan dialah yang Telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. amat sedikitlah kamu bersyukur.
Dan dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi Ini dan kepada-Nyalah kamu akan dihimpunkan.
Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Qs.23:78-80)

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.
Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih, (Qs.25:47-48)

Dan dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang Ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.
Dan dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (Qs.25:53-54)

Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (Qs.25:62)

Dan dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Qs.28:70)

Dan dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, Kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs.30:27)

Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah). (Qs.40:13)

Dan dialah yang menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,
Dan dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. (Qs.42:25-26)

Dan dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. dan dialah yang Maha pelindung lagi Maha Terpuji. (Qs.42:28)

Dan dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Qs.43:84)

Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang Telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Qs.48:4)

Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsydia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Qs.57:3-4)

Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Quran) supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. (Qs.57:9)

Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs.59:22-24)

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs.62:2-3)

Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Qs.64:2)

Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, (Qs.85:14)

Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (Qs.112:1-4)

Ketika arah tujuan hanya ke DIA
Ketika cita-cita hanya ke DIA
Ketika kemauan keras hanya ke DIA
Ketika ingatan hanya ke DIA
Ketika yang diucapkan hanya DIA
Ketika pikiran dipenuhi dengan DIA
Ketika hidup hanya untuk pengabdian pada DIA
Maka… akan diperoleh harmonitas pribadi untuk kemudian mendapatkan harmonisasi dalam kehidupan.

Wallahu a’lam
(Agus Mulyono, 15 juli 2014)..

Jumat, 27 Juni 2014

S2 atau ngangon wedus?



          Setelah lulus sebagai sarjana si Wawan melanjutkan ke jenjang berikutnya (jenjang S2) dengan biaya yang tidak sedikit. SPP setiap semester 6 juta rupiah, belum lagi biaya kost setiap bulan, biaya hidup dan biaya lainnya. Kira-kira sampai lulus (4 semester jika lancar) menghabiskan biaya kurang lebih 44 juta (spp 24 juta + biaya kost 5 juta + biaya hidup 15 juta).


          Setelah mulai dengan perkuliahan di S2 si Wawan merasa biasa saja seperti kuliah pada saat di S1, kadangkala dosennya hanya memberi tugas … dosennya menyuruh untuk membuat kelompok… dosennya menyuruh membuat makalah…. kemudian mahasiswa diminta untuk presentasi. Atau dosennya hanya mengajarkan apa yang ada di slide power point sementara mahasiswa ngantuk-ngantuk mendengarkan. Sampai dengan waktunya lulus… si Wawan hanya merasakan kalau umurnya semakin bertambah dan mendapatkan sehelai ijazah tanda bahwa dia berhak menyandang gelar Master.

           Karena menyandang gelar Master si Wawan ingin menjadi seorang dosen… dia mendatangi beberapa perguruan tinggi… ternyata tidak ada perguruan tinggi yang membuka lowongan. Dia hanya ditawari untuk mengajar 2-4 SKS dengan honor 500 ribu per bulan di perguruan tinggi negeri.

          Mungkin karena si Wawan bergelar S2… dia menjadi pilih-pilih pekerjaan… dia tidak mau pulang kekampungnya… karena merasa gengsi… mosok sudah Master terus balik kekampung…; oleh karena itu si Wawan terus saja mengandalkan ijazah S2 nya dengan mengajar di perguruan tinggi walaupun dengan gaji honorer.

          Karena si wawan dulu waktu kuliah sering mendapatkan tugas membuat makalah dari dosennya… maka gaya mengajar si Wawan juga persis dengan dosennya dulu… memberi tugas, menyuruh membuat makalah… menyuruh presentasi.

          Sementara itu si Amin setelah lulus sarjana… dia lebih memilih untuk ngangon wedus, dia terinspirasi dari salah seorang dosennya yang selalu memberi wawasan tentang realitas kehidupan, tentang realitas kebutuhan masyarakat, realitas pendidikan… pernah suatu ketika sang dosen dalam kuliah menyampaikan sebuah hadits tentang profesi menggembala

               Dari Abu Hurairah R.A. dari Nabi SAW, dia bersabda : "Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing". Sahabat-sahabat beliau bertanya : “Begitu juga engkau ?” ; Rasulullah bersabda : “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah”. (H.R. Bukhari)

             Si Amin juga terngiang-ngiang dengan kata-kata yang pernah disampaikan oleh sang dosen bahwa profesi kita seharusnya berkontribusi nyata bagi kehidupan… dalam konteks menggembala seperti diatas kontribusinya adalah memenuhi kebutuhan daging nasional dimana bangsa Indonesia masih sangat jauh jumlah konsumsi dagingnya dibandingkan dengan negara lain.

              Karena itulah si Amin memutuskan untuk ngangon kambing. Jika si Wawan menghabiskan biaya 44 juta untuk mendapatkan gelar Master dan setelah lulus masih bingung kesana kemari dan diliputi kegalauan… si Amin hanya mengeluarkan biaya 30 juta untuk membeli 20 ekor kambing betina dan 3 ekor kambing jantan.

             Si Amin menggunakan konsep menggembala dalam mengembangkan kambing-kambingnya. Hanya dalam waktu satu tahun si Amin sudah mendapatkan 40 ekor anak kambing… sehingga total kambing yang dimilikinya menjadi 63 ekor. Hanya dalam waktu satu tahun si Amin sudah bisa menjual anakan kambing setiap bulannya 2-3 ekor dengan penghasilan kurang lebih 3-5 juta perbulan. Setelah dua tahun kambingnya semakin berkembang dan ditahun kedua penghasilan si Amin sudah kurang lebih 5-7 juta.

      Si Amin karena seorang sarjana dalam waktu senggangnya dia terus mencari informasi dan pengetahuan dari internet (kalau si Wawan ngenet untuk membuat makalah memenuhi tugas dosennya, tapi si Amin ngenet untuk kebutuhannya sendiri untuk memperbanyak wawasan) untuk menambah wawasan (wawasan apa saja khususnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan daging nasional).

              Jadi setelah dua tahun berlalu…. Ketika si wawan memutuskan meneruskan kejenjang S2 dia masih menjadi tenaga honorer yang dibayar per sks mengajar mahasiswa dengan gaya seperti dosennya dulu. Sementara si Amin telah bisa mandiri dan mempunyai kontribusi lebih nyata… dan si Amin sekarang telah banyak memberikan pelatihan-pelatihan bagi masyarakat sekitarnya untuk juga ikut berkontribusi pemenuhan kebutuhan daging, kebutuhan untuk Aqiqah, kebutuhan untuk kurban dll.

           Sebenarnya cerita si Wawan dan si Amin adalah bentuk kritik terhadap sistem pendidikan secara umum di negeri ini. Hampir semua perguruan tinggi menawarkan program S2 baik PT negeri maupun Swasta, baik dikota besar maupun di daerah dengan berbagaimacam jurusan (hukum, pendidikan, manajemen, eksakta dan lain-lain) sehingga banyak dari para lulusan sarjana untuk langsung mengambil kuliah di S2 tanpa ada pengaturan dari pemerintah sedemikian rupa terkait dengan pengelolaan lulusannya. Sehingga yang terjadi adalah inflasi gelar… inflasi ijazah yang ujung-ujungnya adalah menghabiskan biaya dan waktu… Mubadzir… sehingga yang menjadi korban adalah masyarakatnya.

       Mungkin kita merasakan bahwa mungkin sistem pendidikan kita salah arah karena tidak menghasilkan lulusan-lulusan yang mampu berfikir dan kreatif… sistem pendidikan terasa bermental proyek artinya lebih mengedepankan keuntungan dibanding dimensi kependidikan yang harusnya menjadi hal utama. Pendidikan jadi sebuah proyek, dimana dimensi proyeknya lebih besar dibanding dimensi pendidikannya.

            Lebih jauh lagi… kita juga merasakan pendidikan kita hanya mampu mencetak distributor, operator dan konsumen ilmu dan teknologi bangsa lain. Sehingga para lulusan seringkali galau dan paling banter sekedar menjadi tenaga kerja yang harus melayani kepentingan bangsa lain yaitu menjadi distributor, operator, dan konsumen hasil teknologi bangsa dari negara lain yang dianggap maju. Dengan kata lain para lulusan kita sekedar sebagai intrumen ekonomi bagi kepentingan pemasaran hasil teknologi bangsa lain.

        Jadi memang perlu ada perubahan secara besar-besaran/perubahan radikal terkait dengan sistem pendidikan… dan pemerintah harus betul-betul fokus terhadap pengelolaan pendidikan sehingga bangsa ini menjadi mandiri dan bermartabat.

           Untuk apa S1, kemudian S2, kemudian S3 kalau hanya menjadi instrumen ekonomi bagi kepentingan negara lain… mending ngangon jika kemudian ngangon membuat lebih mandiri dan lebih bermartabat.

Wallahu a’lam
(Agus Mulyono, Malang 23 Juni 2014)

Rabu, 11 Juni 2014

Mana Yang Lebih Maju… Mana Yang Lebih Canggih?



          Seorang Petani (sebut saja pak nono) yang sudah berusia senja dengan penuh semangat dan riang membajak sawahnya dengan menggunakan cara tradisional (membajak sawahnya dengan menggunakan sapi). Sesekali pak nono ini berhenti sejenak untuk mengarit rumput diujung sawah untuk diberikan kepada sapinya. Sambil mengunyah sapi ini terus berputar-putar di sawah sesuai dengan kendali pak nono… sesekali sapinya mengeluarkan kotoran yang kemudian ikut tercampur tanah sawah itu.
          Sementara di ujung yang tidak begitu jauh… terdengar suara traktor… seorang petani (sebut saja pak maman) juga lagi membajak sawahnya dengan menggunakan traktor. Suaranya selalu terdengar meskipun agak jauh, asap dari knalpot traktor juga melayang-layang terhembus angin dan bercampur dengan udara disekitar sawah. Jika kehabisan bahan bakar… pak maman itu akan pergi mencari toko terdekat yang berjualan bensin/solar.
          Ketika pak nono ditanya kenapa membajak sawahnya kok masih pake’ cara tradisional? Kan sudah ada traktor yang lebih modern dan lebih canggih?
          Pak nono bilang… kata siapa menggunakan sapi itu tradisional? Justru itu yang lebih canggih…, justru itu yang modern…, justru itu yang ramah lingkungan…, justru itu yang lebih Islami…
          Pak nono terus berkomentar… saya akan tetap menggunakan sapi.., bahan bakarnya banyak didapat dari sekitar sawah (rumput dan berbagai sisa hasil pertanian)…, kotoran dan kencingnya secara alami akan menjadi pupuk yang bermanfaat untuk mempertahankan kesuburan tanah. Harga sapi seiring waktu akan tambah mahal apalagi jika kemudian beranak. Sapi sapi bisa terus beregenerasi, tidak perlu membeli suku cadang….Dan yang paling penting adalah tidak mencemari lingkungan.
          Menggunakan traktor… jelas mengeluarkan asap yang mencemari udara.., bahan bakarnya harus beli.., jika ada oli mesin yang tercecer akan merusak tanah…, dan traktor itu merupakan bentuk bentuk kapitalisme.
Menurut pak nono…. Mana sebenarnya yang lebih canggih?
          Pak nono bilang bahwa… hidup sekarang ini seringkali kita termakan oleh teknologi, seringkali kita menjadi korban teknologi… seharusnya semakin orang berpengetahuan… semakin orang berilmu… membuat orang semakin sadar untuk hidup selaras dengan alam dan selaras dengan kehendak Pencipta. Tapi sekarang ini… pengetahuan justru banyak digunakan untuk kemudian melawan alam, merekayasa alam.
          Teknologi sebenarnya bukan sesuatu yang netral dan bukan sesuatu yang bebas nilai. Teknologi mudah untuk dimanipulasi dan disalahgunakan. Teknologi yang sekarang yang terkait dengan produksi pasti seringkali mendestruksi yang lain. Dan kehidupan manusia semakin lama semakin dibawah pengaruh atau dibawah kekuasaan oleh pihak penguasa.
          Sebenarnya kemajuan ilmu/teknologi, kecanggihan, kemodern, dikembangkan dan diciptakan pada jaman sekarang ini untuk apa? Apakah Kemajuan atau kecanggihan ini membuat hidup manusia dan hidup makhluk lainnya menjadi lebih baik? Benarkah sekarang kehidupan manusia dan kehidupan makhluk lainnya menjadi lebih baik?
          Untuk apa berdiri gedung-gedung mewah bertingkat-tingkat, jika kemudian orang-orang lemah disekitarnya menjadi tertindas dan ekologi disekitarnya menjadi rusak, banjir dimana-mana.
Untuk apa berdiri mall-mall dan plaza-plaza (indo mart, alfa mart), jika kemudian pasar tradisional banyak yang mati…toko-toko kecil milik masyarakat kecil harus tutup.
          Untuk apa berdiri pabrik-pabrik, jika kemudian menghasilkan limbah-limbah yang kemudian mencemari lingkungan.., membunuh hewan-hewan yang ada disungai dst.
          Untuk apa berdiri industri-industri, jika kemudian harus menggusur tanah-tanah pertanian… dan juga menghasilkan limbah-limbah yang merusak lingkungan.
          Untuk apa berdiri rumah-rumah mewah, jika harus menggusur tanah pertanian dan tanah-tanah yang berfungsi sebagai resapan.
          Untuk apa menjadi sekolah-sekolah maju, apabila hanya menciptakan manusia-manusia kompetitor yang hanya berpikir untuk menang dan dapat menguasai yang lain.
          Untuk apa menjadi kampus-kampus maju, apabila tidak mampu berbuat nyata untuk kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat sekitarnya.
          Jadi apa sebenarnya makna kemajuan/kecanggihan? apakah kemajuan bermakna seperti ini, bahwa kemajuan hanya menciptakan manusia menjadi seorang kompetitior yang dilatih untuk selalu berlogika kalah menang. Semakin lama semakin banyak orang mendapatkan didikan atau belajar untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sebagai individu yang ingin disebut sukses… bukan belajar bagaimana caranya menciptakan dan memperoleh hidup sejahtera bersama (bersama makhluk lainnya). Dampaknya…., banyak orang menganggap bahwa semua orang adalah pesaing, semua perusahaan adalah pesaing, semua institusi adalah pesaing, semua sekolah adalah pesaing antar sekolah, semua kampus adalah pesaing antar kampus. Apakah hidup ini harus berkompetisi?
Apakah kemajuan untuk kemajuan? ….,
          atau kemajuan untuk kedamaian, keharmonisan alam semesta dan untuk kesejahteraan bersama…
          Jika kemajuan/kecanggihan kemudian merusak lingkungan…, jika kemajuan membuat kehidupan makhluk lainnya (manusia lainnya, hewan, tanaman dan lainnya) menjadi tertindas…., berarti ada yang salah dari kemajuan/kecanggihan itu?



Wallahu a’lam
(Agus Mulyono, Malang 11 juni 2014).

Jumat, 16 Mei 2014

Ketika Pimpinan Dicintai Masyarakatnya (Imam suproyogo)

Ketika Pimpinan Dicintai Masyarakatnya

Sejak dari jam 8 pagi… mulai dari cleaning service, security, mahasiswa dan dosen UIN berbondong-bondong mendatangi kantor kejaksaan kota malang untuk memberikan dukungan moril kepada Prof. Imam Suprayogo. Tidak kurang dari seribu lima ratusan massa memadati depan kantor kejari. Hampir semua wajah memperlihatkan terharu dan berkaca-kaca dan tidak rela melihat guru dan mantan pimpinannya diperiksa atas suatu tuduhan.

Mayoritas masyarakat di UIN merasakan betul bagaimana perkembangan UIN mulai sejak menjadi fakultas cabang IAIN Surabaya kemudian menjadi STAIN kemudian menjadi UIIS sampai menjadi UIN. Mayoritas masyarakat di UIN tahu betul bagaimana kegigihan… perjuangan… kerja keras Pak Imam (selama menjadi rektor). Tidak saja perkembangan fisik bangunan, juga perkembangan SDM dan perkembangan pemikiran terkait dengan bagaimana seharusnya perguruan tinggi Islam itu dikembangkan.

Sehingga secara otomatis mayoritas masyarakat di UIN maupun dikementerian Agama seringkali mengidentikkan perkembangan UIN Malang dengan Pak Imam.

Meskipun Pak Imam sudah tidak menjadi rektor lagi…, mayoritas masyarakat di UIN masih merasakan semangat… kegigihan pak Imam… seolah-olah ruhnya UIN adalah pak Imam.

Inilah sebenarnya fenomena ketika masyarakat mencintai pimpinannya. Meskipun sudah tidak memimpin… masyarakat akan selalu setia, tawadhu’, selalu menghormatinya… karena jasa-jasanya dirasakan oleh banyak orang.

Tidak mudah menjadi pemimpin yang dicintai…. Banyak contoh kasus dimana seorang pimpinan diberbagai institusi setelah tidak memimpin lagi…. Masyarakatnya sudah tidak pernah memperdulikannya. Banyak juga contoh kasus dimana seorang pemimpin… belum selesai masa jabatannya dipaksa turun oleh masyarakatnya karena masyarakat tidak mencintainya.

Menjadi seorang pemimpin apalagi dicintai masyarakatnya bukanlah hal yang mudah. Banyak dari kita berambisi untuk menempati posisi tertentu/jabatan tertentu (menjadi kepala desa, camat, bupati, gubernur, presiden, rektor atau jabatan jabatan dalam sebuah organisasi).., apa sebenarnya motivasinya mereka? Kadangkala motivasinya sekedar untuk dihargai, dihormati, disanjung dan juga sekedar tunjangan atau fasilitas lainnya. Sehingga banyak kasus bahwa seharusnya seorang pemimpin menjadi seorang pelindung… tetapi justru menjadi seorang diktator dan seringkali mengeluarkan kata-kata ancaman jika tidak patuh kepadanya.

Seorang staf, seorang karyawan, seorang bawahan akan bekerja dengan penuh gairah, dan bekerja dengan suasana menyenangkan dan nyaman apabila memiliki atasan atau pimpinan yang baik yang bisa mengayomi. Sehingga pimpinannya akan dicintai dan akan selalu mendapat dukungan.

Sebaliknya jika pimpinannya terlalu sok menjadi pimpinan, sering marah-marah, diktator, tidak mengayomi, kata-katanya selalu pedas terhadap bawahan, bermain politik kotor… maka pimpinan ini akan dibenci oleh anak buahnya dan tidak akan mendapatkan dukungan (dan mungkin dilengserkan sebelum waktunya).

Oleh karenanya seorang pimpinan seharusnya selalu berusaha menjadi pimpinan yang baik agar tujuan organisasi dapat tercapai dan semua elemen organisasi merasakan keberhasilan secara bersama-sama.

Seorang pemimpin perlu menyeimbangkan dua hal yaitu kesejahteraan dan sumber daya manusia. Pemimpin yang hanya memikirkan hasil kerja tanpa memikirkan kesejahteraan orang yang dipimpinnya akan sulit memperoleh kesetiaan,kehormatan dan dukungan dari masyarakatnya.

Seorang pemimpin perlu menempatkan orang orang di tempat yang sesuai dengan potensi dirinya. Jika salah tempat, maka lambat laun akan menjadi ledakan potensi diri dari setiap individu yang kadangkala sulit dikendalikan dan mungkin dapat dikatakan mengganggu jalannya organisasi.

Seorang pemimpin perlu memberikan pujian dan penghargaan secara jujur sehingga bawahan termotivasi untuk bekerja lebih baik.

Seorang pemimpin jika menegur kesalahan hendaknya dengan cara yang baik, tidak dibicarakan terus dalam suatu forum terbuka…, karena akan menyakiti perasaan bawahan. Dan banyak lagi yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin yang ingin dicintai oleh masyarakatnya.

Dan apa yang terjadi tadi pagi di depan kantor kejaksaan… menunjukkan bahwa Pak Imam telah menjadi pemimpin yang dicintai oleh masyarakatnya khususnya masyarakat di UIN.

Dan kepada pengganti pak Imam untuk selalu berusaha menjadi pemimpin yang bisa dicintai oleh masyarakatnya.

Wallahu a’lam
(Agus Mulyono, Malang 14 Mei 2014)

Senin, 21 April 2014

benarkah...


Belajar atau Bersekolah?..... Belajar atau Kuliah?....

Dua siswa ini (sebut saja Amin dan Iman) sama-sama menyenangi pelajaran biologi, karena pelajarannya menarik dan gurunya selalu menarik dan cantik. Sehingga dua siswa ini mempunyai keinginan melanjutkan keperguruan tinggi untuk mengambil jurusan Biologi.

Si Amin tidak jadi meneruskan kuliah, Karena orang tua si Amin tidak sanggup untuk membiayai nya kuliah diperguruan tinggi. Sedangkan si Iman tetap melanjutkan ke perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Biologi…, karena orang tua si Iman termasuk orang kaya.

Setelah menjadi mahasiswa, seperti biasanya seorang mahasiswa, si Iman sibuk dengan mengikuti kuliah yang disampaikan oleh dosennya di kelas, melakukan praktikum, membuat laporan dan lainnya. Si Iman mengikutinya setiap hari kegiatannya dikampus. Kalau ada kuliah si Iman selalu hadir (yang penting hadir dikelas), kalau ada praktikum si Iman juga selalu hadir, kalau ditugasi membuat laporan… si Iman juga selalu membuat laporan (tinggal cari laporan angkatan tahun yang lalu, terus ditulis ulang ditambahi sedikit). Setelah kuliah si Iman kembali ke kostnya, cangkru’an bersama teman-teman di kostnya. Setiap hari yang dilakukannya hanyalah kuliah-kost-cangkru’an dan seterusnya sampai dia diwisuda, kemudian mendapatkan ijazah sebagai sarjana Biologi. Setelah lulus…seperti biasanya para lulusan sarjana (sarjana apa saja) terjadi kegalauan… galau mencari kerja…

Sementara itu si Amin, meskipun tidak kuliah tetapi dia berkeinginan mempunyai ilmu tentang Biologi. Setiap Malam dia memanfaatkan uang upah dari mengarit rumput untuk kambing tetangganya digunakan untuk ngenet belajar tentang ilmu Biologi di dunia Maya
. Dia ingin ilmunya sama dengan ilmu yang dimiliki oleh sarjana Biologi meskipun tidak kuliah di kampus. Dia kemudian mencari gambaran ilmu Biologi apa saja yang harus dikuasai agar setara dengan sarjanan Biologi. Karena uangnya terbatas, dia manfaatkan waktu untuk mendownload berbagai macam ilmu biologi dari beberapa situs jurusan Biologi.

Mungkin karena semangat belajarnya, hanya dalam waktu satu tahun si Amin sudah dapat mengaplikasikan ilmunya dalam kegiatan kesehariannya beternak kambing milik tetangganya. Dan Si Amin mempunyai ternak sendiri dan terus mengembangkan peternakannya. Si AMin terus belajar… hanya dalam waktu kurang dari dua tahun si Amin sudah melalap habis ilmu tentang Biologi yang didapatkan dari dunia Maya.

Mungkin si Amin kalau ditest, ditanya, tentang konsep-konsep biologi sudah setara dengan sarjana biologi (yang betul-betul sarjana). Hanya saja si Amin tidak memperoleh ijazah tapi ilmunya setara dengan sarjanan biologi.

Sementara si Iman…, karena kurang belajar…, hanya yang penting datang kekelas…, betul dia mendapatkan ijazah, betul dia diwisuda sebagai sarjana biologi… tetapi ilmunya belum seperti sarjana yang seharusnya…

Jadi si Amin dapat ilmunya tapi tidak dapat ijazahnya…., sementara si Iman dapat ijazahnya tapi tidak dapat ilmunya.

Di dalam realitas, banyak orang yang sukses berkontribusi pada lingkungannya, meskipun tidak kuliah… tetapi karena belajar terus. Dan banyak juga orang yang meskipun sudah kuliah, tetapi bingung untuk berbuat sesuatu… karena kurang banyak belajar.

Jadi sebenarnya yang penting adalah belajar. Yang penting adalah menuntut/mencari ilmu. Bukan yang penting bersekolah…, bukan yang penting kuliah. Si Amin lebih sukses (lebih berkontribusi pada masyarakatnya) karena dia bersemangat untuk belajar dan mencari banyak wawasan meskipun tidak kuliah.

Cerita diatas, mengingatkan kepada kita khususnya pengelola pendidikan bahwa…, para alumni sebenarnya terjadi kegalauan akan masadepannya… terkait dengan sistem pendidikan yang semakin terjebak pada ukuran-ukuran formal (Ujian nasional, olimpiade, akreditasi, WCU). Pendidikan yang semakin jauh dari realitas, pendidikan yang semakin tidak memerdekakan, tidak mencerahkan… tetapi justru seringkali membuat alumni sangat tergantung pada ijazahnya.

Kepada para calon sarjana.., jangan terlalu mencukupkan apa yang didapat dari kuliah, cari banyak wawasan, cerdas melihat peluang dan segera membangun kemadirian. Jangan menggantungkan diri pada ijazah.

Minggu, 20 April 2014

Realitas Pendidikan

Realitas Pendidikan

Ketika berangkat ke kampus pagi tadi ada pemandangan menarik dari salah satu sekolah Taman Kanan-Kanak yang lagi mempersiapkan karnaval dalam rangka memperingati hari Kartini. Saya melihat beberapa anak-anak menggunakan pakaian adat, kelihatan menggemaskan. Tetapi yang menjadi perhatian saya adalah pakaian anak-anak yang menggambarkan profesi-profesi… ada anak berpakaian ala dokter, ada yang berpakaian ala tentara, ada yang berpakaian polisi, ada pilot, ada yang mirip guru, ada yang menngunakan seragam pemkot…, anehnya saya tidak melihat seorangpun yang menggunakan pakaian petani atau nelayan (umpama membawa berbagai hasil panen, atau membawa ikan-ikan).

Nah, disinilah mungkin berawal…., bahwa ketika Indonesia yang kaya akan potensi pertanian, kaya akan potensi kelautan, kaya akan potensi hutan, kaya akan potensi perikanan…, tetapi tidak mendapatkan perhatian……., sehingga yang terjadi bahwa potensi itu tidak memberikan nilai lebih kepada penduduk di negeri ini. 

Memang dalam dunia pendidikan secara umum di negeri ini, telah mengarahkan kepada siswa untuk menjadi pegawai, karyawan dan sejenisnya. Di Kelas-kelas sepertinya kurang memberikan pencerahan kepada siswa bahwa Indonesia mempunyai potensi alam yang luar biasa yang perlu mendapatkan perhatian para generasi penerus untuk dapat melestarikan dan mengembangkannya.
Sejak TK sudah ditanamkan bahwa sepertinya profesi yang bagus adalah profesi seperti disebutkan di atas (polisi, tentara, guru, pilot, pns)…., yang lain dianggap sebagai pekerjaan yang tidak penting….; Sejak TK secara tidak sadar… lembaga pendidikan kurang memberikan perhatian akan potensi yang ada disekitar kita untuk bisa dikembangkan dalam rangka memberika kemakmuran bersama.

Jadi memang tidak salah….ketika mayoritas lulusan lembaga pendidikan berpikirnya adalah menjadi pegawai….., karena memang pendidik belum bisa memberikan wawasan yang luas akan potensi Indonesia…., belum banyak memberikan wawasan bagaimana peluang-peluang mengembangkan potensi alam Indonesia khususnya di bidang pertanian, kelautan, perhutanan, peternakan, perikanan.

Di sekolah sepertinya kurang ada suasana yang dapat menimbulkan pikiran-pikiran kreatif untuk berkarya, untuk usaha, untuk menciptakan pekerjaan, untuk melihat dan mengembangkan potensi daerah. Gurunya, dosennya juga mayoritas tidak mempunyai pengalaman-pengalaman itu. Sehingga dalam pembelajarannya di kelas, sangat jarang memberikan rangsangan pada anak didik untuk pikiran-pikiran berkaitan dengan pengembangan potensi daerah. Sehingga tidak heran kalo’ kemudian para lulusan selalu mengandalkan menjadi Pegawai, setiap hari mengirim amplop lamaran kerja, pergi kesana kemari untuk mencari pekerjaan, dan diliputi kegalauan setelah lulus.

Masyarakat kita lebih senang memadati kota-kota besar dan berebut pekerjaan di berbagai industri…. Tidak banyak masyarakat kita khususnya generasi mudanya yang berkeinginan untuk mengoptimalkan lahan-lahan subur atau lahan-lahan yang ada disekeliling kita. 

Pendidikan terasa semakin jauh dengan realitas, apa yang menjadi potensi negeri ini, apa yang seharusnya menjadi fokus perhatian, apa yang seharusnya menjadi materi pelajaran, apa yang seharusnya menjadi materi cerita untuk anak didik, apa yang seharusnya menjadi isi dari bahan untuk memotivasi siswa, apa yang seharusnya dikembangkan dan seterusnya.

Pendidikan untuk mencerahkan, pendidikan untuk menyadarkan, pendidikan untuk memandirikan, pendidikan untuk menghilangkan kegalauan, pendidikan untuk memakmurkan, pendidikan untuk menyadarkan akan pengabdian kepada Yang Maha Pencipta, pendidikan untuk menselaraskan kehidupan dengan kehendak Pencipta.

Pendidikan akan mengantarkan seseorang dari sisi gelap ke sisi terang.
(pendidikan bukan sekolahan lho..)
Habis gelap terbitlah terang….,
terang terus menyinari, mencerahkan dan memakmurkan seluruh isi alam semesta.

Wallahu a’alam
(Agus Mulyono, Malang 21 April 2014)

Senin, 14 April 2014

sebuah kisa nyata...mungkin...

Kelucuan Pendidikan

Ada yang lucu dalam sistem pendidikan kita khususnya dalam pelaksanaan evaluasi yang bernama ujian nasional. Pemerintah tidak mempercayai sekolah, pemerintah tidak mempercayai guru-guru yang ada disekolah, pemerintah tidak mempercayai siswa-siswa disekolah. Mungkin karena memang sekolah-sekolah tidak bisa dipercaya, guru-guru tidak bisa dipercaya, siswa-siswa juga tidak bisa dipercaya. Atau mungkin sistem ujiannya yang salah… sehingga dapat menimbulkan kesalingtidak percayaan dari para penyelenggara pendidikan itu sendiri.

Seorang tukang sayur yang berpikiran sederhana bilang bahwa… “kenapa dilembaga pendidikan semua orang-orangnya tidak bisa dipercaya? Jangankan siswanya, gurunya juga tidak dipercaya… buktinya kalau ada ujian nasional harus ada polisinya, harus ada pengawas dosennya”.

“Terus apa yang diajarkan di sekolah…, jika kemudian siswanya seringkali berbuat curang…, atau gurunya juga ngajarin untuk curang atau kepala sekolahnya juga ngajarin untuk curang…, sehingga pemerintah tidak mempercayai sekolah….., sehingga dalam pelaksanaan ujian menjadi lucu…. Harus ada polisinya… harus ada pengawas dosennya”.

Apa yang dikatakan tukang sayur itu, dengan logika sederhananya menarik untuk dikaji lebih lanjut. Memang terkesan lucu ketika pelaksanaan ujian nasional di lembaga pendidikan (tempat dimana pendidikan itu dilaksanakan) seringkali diduga dan ditemukan banyak kecurangan. Ini menunjukkan bahwa ada hal yang salah dalam sistem itu sendiri.

Coba kita bayangkan bahwa…. Lembar jawaban setiap hari yang dikirim ketempat pemindaian, harus dikawal oleh dua orang polisi dan dari dikbud dan juga ada dari perguruan tingginya. Mirip dengan pemilu, bahwa kertas suara atau rekap hasil suara harus dikawal sedemikian rupa… agar tidak ada kecurangan dalam perjalanan yang disengaja oleh partai politik. Jadi sepertinya pelaksanaan ujian mirip dengan logika pelaksanaan pemilu…., jadi sepertinya pendidikan mirip dengan proses politik.

Dalam pelaksanaan ujian nasional selain melibatkan polisi, melibatkan para pengawas dari perguruan tinggi. Untuk Jawa Timur saja melibatkan kurang lebih 4100 dosen-dosen dari perguruan tinggi untuk mengawasi pelaksanaan ujian disekolah sekolah di Jawa Timur. Jika perdosen dalam kepengawasan mendapatkan honor kira-kira 1 juta maka untuk biaya pengawas disatuan pendidikan saja butuh dana sebanyak 4,1 milyar, belum untuk kepanitiaan yang lainnya, belum untuk nyangoni polisinya dalam biaya-biaya lainnya. Itu baru Jawa Timur…, bisa dibayangkan berapa anggaran untuk pelaksanaan ujian nasional untuk seluruh Indonesia.

Untuk tahun depan karena sudah implementasi kurikulum 2013…, kalau menurut logika kurikulum 2013 pastinya tidak akan ada model ujian nasional seperti sekarang ini…, tapi jika masih muncul model yang mirip-mirip dengan apa yang dilaksanakan sekarang.., berarti memang pelaksanaan ujian nasional bukan karena memperbaiki mutu pendidikan tetapi lebih pada pendekatan “proyek”.

Semakin lama pendidikan terasa semakin salah kapra. Yang penting ujiannya lulus, yang penting bisa masuk ke sekolah favorit, yang penting bisa masuk sekolah yang keren.

Kesalahkaprahan ini semakin terus terjadi. Sehingga semakin lama bukannya semakin mendidik untuk menjadi baik tetapi semakin mendidik untuk semakin pragmatis.
Akhirnya semua elemen masyarakat menjadi ikut-ikutan pragmatis. Buktinya adalah antara lain masyarakat menganggap bahwa dengan bersekolah dapat meningkatkan status sosial dan mempunyai pekerjaan yang berpenampilan keren (berdasi, bersepatu, membawa tas). masyarakat menganggap bahwa sekolah adalah tempat mencari harapan, sekolah menjadi tumpuan untuk mendapatkan finansial tinggi. Masyarakat menganggap dengan menempuh pendidikan setinggi-tinggi nya kemudian lulus mendapatkan ijasah, diharapkan dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak.

masyarakat menganggap bahwa dunia pendidikan (sekolah) seperti layaknya institusi penyalur pegawai negeri sipil (PNS). seolah-olah status/gelar akademik yang dicapai (D1,D2,D3,S1,S2, dan S3) hanya cocok untuk pekerjaan kantoran (PNS).

masyarakat juga menganggap bahwa sekolah adalah tempat berinvestasi untuk kemudian mendapatkan uang yang lebih besar.

Masyarakat juga menganggap bahwa sekolah adalah tentang kelulusan dengan nilai-nilai yang waah, meskipun kadang penuh dengan kepalsuan dan kecurangan.

Masyarakat menganggap bahwa sekolah adalah tempat untuk mencetak selembar kertas tanda lulus (ijazah) untuk kemudian digunakan dan memudahkan dalam mendapatkan pekerjaan.

Dan kita semakin lupa bahwa sebenarnya dalam lembaga pendidikan atau bersekolah itu, untuk dapat belajar mengolah rasa, memahami orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain, menjadi bagian dari orang lain, dan memahami sikap-sikap orang lain. Belajar untuk mempertajam kecerdasan, mengolah hati dan juga belajar mengendalikan emosi, juga belajar ketrampilan hidup.

Masyarakat menganggap bahwa bersekolah adalah tempat belajar bagaimana mencari penghidupan, padahal seharusnya lembaga pendidikan adalah bukan tempat untuk mencari penghidupan, tetapi tempat untuk belajar bagaimana nantinya para lulusan dapat berkontribusi membuat kehidupan semua makhluk menjadi lebih baik.

Walllahu a’lam.
(Agus Mulyono, Malang 14 April 2014)

Minggu, 02 Maret 2014

Karakter

Karakter

Suatu ketika pak kyai bilang sama santrinya bahwa kalau mencermati masyarakat bangsa kita akhir-akhir ini, maka akan didapatkan beberapa karakter dari masyarakat kita, antara lain:

- Hipokrit, senang berpura-pura, lain dimuka lain dibelakang, antara mulut dan hati seringkali berbeda, dan suka menyembunyikan apa yang dikehendaki.
- Feodal, senang banget memperhamba pihak yang lemah, senang mendapat pujian, takut dan tidak suka dikritik.
- Kurang bertanggungjawab. Senang mengkambinghitamkan orang lain apabila melakukan kesalahan atau menghadapi kegagalan.
- Suka meniru, lemah pendirian, kurang mau berfikir
- Kurang sabar dan cepat cemburu
- Kurang jujur

Kenapa timbul karakter seperti ini? Bisa jadi ini merupakan dampak model pendidikan yang digunakan. Ketika pendidikan kita hanya mementingkan formalitas, mementingkan persoalan angka-angka, mementingkan pada nilai-nilai ujian, mementingkan persoalan perangkingan, mementingkan urusan kompetisi-kompetisi atau lomba-lomba, mementingkan citra, lembaga pendidikan mengejar popularitas…., maka sebenarnya kita telah mendidik generasi berikutnya untuk hipokrit.

Ketika dalam lembaga pendidikan ada feodalisme oleh para pendidik, oleh atasan kepada bawahan…, biasanya pendidik memaksa agar siswanya menjadi terlalu manut, maka disinilah sebenarnya kita telah mendidik generasi untuk feodal.

Ketika dalam lembaga pendidikan ada praktek praktek ketidakjujuran, rekayasa laporan BOS, rekayasa dokumen akreditasi, rekayasa laporan keuangan, rekayasa dokumen kenaikan pangkat, rekayasa dokumen sertifikasi dan lain sebagainya…, maka sebenarnya kita telah mendidik generasi untuk tidak bertanggungjawab dan sebenarnya kita juga telah mendidik generasi untuk tidak jujur, dan juga mendidik untuk hipokrit.

Beberapa tahun terakhir banyak orang mulai menfokuskan pada pelaksanaan pendidikan karakter disekolah/madrasah. Tetapi apa artinya materi tentang pendidikan karakter… kalau pada kenyataannya lembaga pendidikan masih seperti yang diuraikan diatas.

Karakter tidak dapat dibangun dengan mudah dan santai, tetapi harus dilakukan secara serius dan terus menerus dan semua sistem mendukung untuk terinternalisasinya karakter positif pada diri generasi.

Sistem politik, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem pelaporan keuangan, sistem kenaikan pangkat, sistem perekrutan pegawai, sistem birokrasi, sistem pertelevisian dan sistem-sistem lainnya harus dapat mendidik masyarakat untuk terbentuknya karakter positif tersebut.

Wallahu a’lam
(Agus Mulyono, Malang 24 Februari 2014)

Minggu, 23 Februari 2014

merenung...fakta

Anggaran Negara Banyak Habis Untuk Keperluan Pejabat

Ketika akan ada kunjungan pejabat pada suatu daerah misalnya presiden atau menteri atau lainnya, maka pemerintah daerah terkesan gupuh untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan niatan agar daerahnya terkesan baik dan mendapatkan pujian. Jalan-jalan yang akan dilalui oleh pejabat itu mendadak diperbaiki, lampu-lampu di pasang, umbul-umbul dibuat, menyiapkan hotel untuk pejabat tersebut beserta para pengiringnya, kadang juga menyiapkan uang untuk nyangoni dan seterusnya, belum lagi kalau kemudian biaya perjalanannya minta ditanggung oleh daerah yang akan dikunjungi dan biaya untuk menginap dihotel juga tidak sedikit.

Ketika kemudian pejabat sudah selesai mengunjungi, maka pimpinan daerah menjadi kebingungan karena ternyata anggaran yang dihabiskan untuk acara kunjungan tersebut sangat besar. Karena tidak mungkin ditanggung oleh dana sendiri… maka dapat dipastikan biaya untuk kungjungan tersebut dibebankan pada negara. Dan jika tidak ada dalam DIPAnya maka dapat dipastikan para pejabat didaerah itu akan mensiasatinya dan akan membuat laporan abal-abal untuk menutupi biaya kunjungan tersebut.

Begitu juga ketika pejabat didaerah semisal bupati akan berkunjung ke kecamatan atau desa… maka daerah yang dikunjungi juga akan gupuh… untuk menyiapkan segala sesuatunya agar daerahnya terkesan baik dan agar kepemimpinannya dikesankan berhasil. Tetapi setelah kunjungan maka juga akan kebingungan untuk kemudian merekayasa anggaran agar dapat dipertanggungjawabkan segala pengeluarannya.

Dan apabila suatu daerah yang akan dikunjungi tidak mempersiapkan dengan baik… maka dapat dipastikan pejabat di daerah akan mendapatkan cercaan dan biasanya akan sulit mendapatkan anggaran tambahan untuk pengembangan daerahnya.

Sehingga tidak salah ketika banyak masyarakat menganggap bahwa jika dihitung-hitung ternyata uang negara banyak habis untuk kepentingan pejabat. Dan kontribusinya tidak begitu nyata dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Seorang pejabat pusat pernah mengatakan bahwa kalau dicermati memang di semua institusi pemerintah… pengelolaan uang negara terkesan boros dan kadangkala bersifat koruptif. Ada unsur kesengajaan menghambur-hamburkan uang negara untuk kepentingan memperkaya diri, untuk unjuk diri, untuk kebanggan diri dst.

Pemborosan ini lebih banyak dipicu oleh ambisi untuk keuntungan pribadi.
Beberapa modusnya antara lain, mengadakan program atau barang yang sejatinya tidak perlu atau memanfaatkan program atau fasilitas yang sudah ada dengan tidak sebagaiman semestinya. Ini mulai dari proses pengadaan barang dan jasa, perjalanan dinas, hingga penggunaan fasilitas pemerintah. Banyak barang dan jasa yang diadakan sejatinya tak penting atau diperlukan untuk kepentingan pelayanan publik atau peningkatan kinerja birokrasi. Dan seringkali tidak sedikit diantara barang yang telah diadakan itu ternyata berkualitas buruk, bahkan tidak berfungsi akibat dari proses lelang yang tidak sebagaimana mestinya.

Untuk itu perlu selalu untuk diingat, bahwa uang negara itu didalamnya ada uang rakyat…, uang yang diperoleh dari rakyat ketika membayar pajak (Pajak bumi dan bangunan, pajak kendaraan bermotor, pajak penghasilan dll) sehingga perlu selalu hati-hati untuk penggunaannya, sehingga tidak habis untuk para pejabat… tetapi untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian serta keberdayaan bangsa.



23_19 feb 2014
gus_mul mulai lagi...

Rabu, 08 Januari 2014

yang katanya seeeee....

MENIKAHI WANITA GADIS

1. Hadits nabi:
عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيرِ. وَفِي رِوَايَةٍ : عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ فَإِنَّهُنَّ أَطْيَبُ أَفْوَاهًا وَأَضْيَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيرِ مِنْ الْجِمَاعِ.

2. Menikahi wanita gadis itu lebih utama dari pada wanita janda sebab:
    a. Wanita gadis lebih mesra dalam mula’abah (bercumbu rayu).
    b. Gadis lebih lembut tutur katanya dan lebih segar mulutnya.
    c. Lebih subur rahimnya.
    d. Lebih ridlo dengan nafkah yang sedikit atau dengan persetubuhan yang sedikit.

3. Perkecualian menikahi wanita janda lebih utama karena udzur:
    a. Keloyoan alat kelamin laki-laki dari membelah kegadisan (iftidlodl atau izalatul bikaroh).
    b. Kebutuhan laki-laki pada wanita yang merawat keluarganya.

4. Faedah menikahi wanita gadis:
    a. Wanita gadis akan menyintai dan setia pada suami pertama, karena watak manusia itu cenderung merasa damai dengan orang yang pertama kali dicintai (cinta pertama). Wanita yang gonta-ganti suami itu terkadang tidak ridlo dengan sebagian sifat yang tidak terbiasa akhirnya membenci suami kedua.
    b. Cinta suami lebih perfect pada istri yang gadis.
    c. Wanita gadis tidak punya kecondongan hati kecuali pada suami pertama.

5. Wanita gadis adalah wanita yang belum hilang kegadisannya. Demikian pula wanita yang telah hilang kegadisannya sebab haidl.

6. Wanita janda adalah wanita yang telah hilang keperawanannya. Demikian pula wanita yang belum hilang keperawanannya karena sangat dalam selaput daranya (al-ghouro’) dan sudah pernah disetubuhi oleh suaminya. Wanita yang telah banyak merasakan banyak laki-laki yang berbeda-beda itu kadang-kadang kurang suka dengan kepribadian laki-laki yang tidak biasa ia rasakan.

(Referensi Al-Bujairami)

Candi Badut Warisan Tertua Jawa Timur

Candi Badut Warisan Tertua Jawa Timur   Oleh : Muhammad Faizal Biologi 12620074 085731144277 Muhammad.faizal.200@gma...